Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Desember 2013

Budidaya Katak Lembu

Di jagat maya, nama Hendro Setiawan (61) dikenal sebagai peternak katak lembu asal Desa Sumberejo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Namun begitu dilacak ke desanya, nama Hendro ternyata tak dikenal. Maklum saja dia memang dikenal sebagai Yasin, peternak katak lembu yang sukses.

Tak populernya nama Hendro menyulitkan pencarian rumah laki-laki itu. Padahal lokasinya di tepi jalan besar, jurusan Kediri – Blitar lewat RS Baptis. Bangunannya pun cukup besar, mirip ruko dengan pintu warna biru. “Ruko” tersebut memang jarang sekali dibuka, tamu atau pemiliknya biasa keluar masuk lewat pintu samping.

Begitu terus masuk ke belakang rumah, langsung terlihat kolam-kolam berbagai ukuran, lengkap dengan atapnya dan dari kejauhan terdengar katak mengorek (bersuara) nyaring. Ya, kolam-kolam itu adalah kolam pembudidayaan bullfrog, atau yang akrab disebut katak lembu karena suaranya seperti suara lembu.

Amphibi bernama Latin Rana catesbeiana dan diyakini berasal dari Afrika - beberapa sumber mengatakan berasal dari Sungai Mississippi dekat wilayah Kanada - itu sejatinya tak jauh beda dengan kodok ijo yang banyak ditemui di sawah di pedalaman Jawa, namun ukuran tubuhnya lebih besar. Bahkan, ukurannya bisa 2 kali lipat kodok ijo.

Kata Hendro alias Yasin, katak berukuran jumbo tapi tampak gesit di dalam kolam itu jumlahnya mencapai 10 ribuan, sebagian sudah siap dilempar ke pasar dan sebagian lain masih menunggu satu atau dua minggu lagi untuk dipanen. Katak yang siap dipasarkan, kata dia, rata-rata berusia 7-8 bulan.

Katak yang siap dipanen dan dipasarkan, kata pria yang memulai budidaya katak lembu sejak 2002 ini, rata-rata beratnya 2,5 ons atau berisi 4 ekor per kilogram. Harga di tingkat peternak, Rp 20 ribu per kilogram. “Kemudian saya menjual ke sejumlah restoran di Surabaya, satu kilogramnya seharga Rp 25 ribu,” kata Hendro yang juga bertindak sebagai pengepul katak lembu.

Dia lantas mengaku, memasok 14 restoran di Surabaya yang memesan katak satu minggu sekali. Pasokan katak itu bukan hanya dari peternakan Hendro saja tapi tapi juga dari peternak lain. Di Kediri sekarang ada 5 peternak, di Pare 2 peternak, serta beberapa lainnya yang tersebar di Blitar, Tulungagung, dan sekitarnya.

“Mereka ini rata-rata setor hasil panenan ke saya dan kemudian saya yang kirim ke Surabaya. Setiap pekanya kami rata-rata bisa mengirim enam kuintal. Kalau pas hari baik atau hari besar China, permintaan dapat melonjak dua kali lipat,” jelasnya.

Hendro melanjutkan, para peternak ini sudah menjalin kerjasama sejak lama. Awalnya, mereka belajar beternak katak lembu kepada dirinya sampai bisa. Dia pula yang memasok bibit (kecebong atau percil) untuk mereka dan mengepul hasil panenan mereka.

“Kalau panen tidak banyak, mereka merasa rugi kalau harus mengirim sendiri ke Surabaya. Ongkos kirim dan tenaga dinilai tidak nyucuk (malah tidak menghasilkan). Karena itu mereka lebih suka kirim ke saya, jarak tempuh angkutannya dekat, meski harga jualnya terpaut Rp 5 ribu (lebih murah),” tambahnya.

Ceruk pasar katak lembu di Surabaya, imbuh pria yang juga berprofesi sebagai pemborong bangunan ini masih cukup luas. Namun dia dan rekan-rekannya baru bisa melayani rata-rata 6 kuintal per pekan. Penyebabnya, hasil peternakan di Kota Kediri dan sekitarnya masih terbatas. “Untuk Surabaya saja kurang padahal permintaan dari kota-kota lain di luar Surabaya juga cukup banyak.”

Bagi Hendro, beternak katak lembu adalah pekerjaan gampang-gampang susah. Kuncinya, telaten dan sabar. Kalau beternak mulai dari kecebong (anak katak yang masih berekor), panennya 8 bulan kemudian. Tapi, kalau mulainya dari percil (anak katak yang tidak berekor), dalam waktu 7 bulan sudah bisa panen. “Malah, kalau percilnya sudah besar atau usia 2 bulan, bisa panen 6 bulan kemudian,” katanya.

Katak indukan, lanjutnya, sekali bertelur bisa mencapai 10 ribu - 20 ribu butir. Telur yang masih lembut itu kemudian dipindahkan ke kolam tersendiri. Setelah menjadi kecebong dan menjadi percil, dipindah ke kolam lain yang berair dangkal.

Meski usia telur sama namun setelah menjadi percil dan katak, besarnya tidak sama. Katak-katak itu harus dipisahkan, yang besar-besar dikumpulkan dalam satu kolam tersendiri, demikian pula yang kecil-kecil. Itu untuk mencegah kanibalisme, perilaku alami katak lembu.

Hendro mengaku, dia pernah berupaya menularkan ilmu beternak katak lembu ke tetangganya, di Desa Sumberejo. Ada 2 warga yang berminat. Mereka belajar darinya, mulai dari pembuatan kolam, saluran air, memelihara kecebong, percil, hingga katak dewasa. Bahkan masalah pakan dan obat-obatan juga diajarkan.

Semula, usaha katak lembu mereka berjalan lancar. Nah, begitu melihat peluang yang menggiurkan, 2 murid Hendro itu menjadi terburu nafsu. Mereka langsung membuat lahan yang lebih besar dan menanam bibit lebih banyak dengan harapan bisa mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. “Memang wajar, saya juga pernah seperti itu,” katanya.

Namun begitu katak terserang penyakit mata putih (semacam katarak) dan kaki merah, 2 murid Hendro itu pun kelabakan. Apalagi serangan penyakit itu cepat sekali menular bila tidak segera diketahui dan ditangani - dipisahkan antara katak sehat dengan yang sudah terserang penyakit. Akhirnya, ternak katak 2 murid Hendro itu ludes tak tersisa sehingga mereka rugi besar. “Sekarang mereka kapok, tidak berani lagi beternak katak lembu,” ungkap Hendro.

Hendro sendiri pernah tersandung masalah serupa. Pada 2004 dia mengalami puso (gagal panen). Saat itu ternak katak lembunya terserang penyakit hingga ribuan yang mati. Hendro merugi puluhan juta rupiah.

Meski demikian, dia masih sempat menyelamatkan sebagian kecil katak lembu yang sudah siap panen berkat gencarnya pengobatan. Begitu katak-katak dewasa itu sembuh, langsung terjual habis sehingga dia tidak memiliki katak yang siap panen.

Yang dia miliki hanya bibit katak lembu berupa kecebong, jumlahnya mencapai puluhan ribu ekor. Jelas butuh waktu cukup lama untuk bisa panen, paling tidak 8 bulan. Namun, dasar sudah menjadi rezekinya, tiba-tiba kawannya di Pare mengontaknya dan mengatakan butuh percil dalam jumlah banyak untuk memasok Dinas Perikanan Bali yang tengah menggelar program budiadya katak lembu.

Tanpa pikir panjang Hendro menyanggupi permintaan itu. Apalagi harga yang ditawarkan temannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga umum. “Dari percil itu saja saat itu, hasilnya bisa menyamai pendapatan panen raya,” kenang Hendro sambil tertawa.

Dia lantas mengungkapkan, kegagalan beternak katak lembu sering disebabkan karena kurang perhatian akan perliku kanibalisme itu. “Hama” lain yang juga banyak merugikan, imbuh Hendro, adalah kucing. “Satu kucing bisa memakan satu katak per hari, nah, kalau setiap hari kecolongan, hitung sendiri sebulan sudah rugi berapa,” terangnya.

Peristiwa gagal panen itu ternyata membawa hikmah tersendiri. Setelah punya pengalaman memasok bibit, kini Hendro jadi punya penghasilan sampingan dari menjual bibit katak lembu. Sekarang ini, harga seekor kecebong berumur satu bulan, Rp 100/ekor; percil usia 2-3 bulan harganya Rp 1.000/ekor.

Para peternak lain katak lembu yang sudah menjadi langganannya, rata-rata mengambil 1.000-3.000 ekor bibit. “Dari 1.000 ekor kecebong kalau bisa panen 300 ekor saja, sudah untung. Itu sudah dipotong biaya produksi. Apalagi kalau hidup semua,” pungkas Hendro.

Sumber :
http://biotani.blogspot.com/2011/08/budi-daya-katak-lembu.html

Minggu, 17 November 2013

Budidaya Timun

Budidaya Timun

I. PENDAHULUAN
Produksi mentimun di Indonesia masih sangat rendah padahal potensinya masih bisa ditingkatkan. Untuk itu PT. Natural Nusantara berupaya turut membantu meningkatkan produksi secara Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3).


II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1 - 26,7)°C dan tidak banyak hujan. Ketinggian optimum 1.000 - 1.200 mdpl.

2.2. Media Tanam
Tanah gembur, banyak mengandung humus, tata air baik, tanah mudah meresapkan air, pH tanah 6-7.


III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
a. Siapkan Natural GLIO dan campurkan dengan pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu.
b. Siapkan tanah halus dan pukan dapat diganti SUPERNASA / POC NASA yang telah dicampur Natural GLIO (tanah : pukan = 7:3) dan masukkan polybag.
c. Rendam benih dalam larutan POC NASA dan air hangat (2cc/l) selama 30 menit.
d. Peram selama 12 jam. Setiap benih yang berkecambah dipindahkan ke polibag sedalam 0,5-1 cm.
e. Polybag dinaungi plastik bening dan bibit disiram dua kali sehari.
f. Semprotkan POC NASA (2cc/l air) pada 7 hss.
g. Setelah berumur 12 hari atau berdaun 3-4 helai, bibit dipindahkan ke kebun.
3.2. Pengolahan Media Tanam
a. Bersihkan lahan dari gulma, rumput, pohon yang tidak diperlukan.
b. Berikan kalsit/dolomit (pH tanah <6 : 1-2 ton/ha)
c. Tanah dibajak/dicangkul 30-35cm sambil membalikkan tanah dan biarkan 2 minggu.
d. Olah kembali tanah sambil membuat bedengan lebar 120 cm, tinggi 30-40 cm dan jarak antar bedengan 30 cm.
e. Tambahkan pupuk kandang 20-30 ton/ha atau 0,5 kg pupuk kandang ke setiap lubang tanam 40 x 40 x 40 cm.
f. Berikan pupuk NPK 100 kg/ha (1/3 dari dosis keseluruhan).
g. Siramkan POP SUPERNASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol/1000 m² dengan cara :
Alternatif 1 : 1 botol POP SUPERNASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan POP SUPERNASA untuk menyiram 5-10 meter bedengan.
h. Pasang mulsa. Dan 1 minggu kemudian buat lubang tanam.
i. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dengan pukan pada setiap lubang tanam (1 kemasan + 25-50 kg pukan matang untuk 1000 m2).

3.3. Penanaman
- Siram bibit dalam polibag dengan air
- Keluarkan bibit bersama medianya dari polibag.
- Tanamkan bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar batang.

3.4. Pemeliharaan Tanaman
- Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang baik.
- Bersihkan gulma (bisa bersama waktu pemupukan).
- Pasang ajir pada 5 hst ( hari setelah tanam ) untuk merambatkan tanaman.
- Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3 minggu setelah tanam pada pagi atau sore hari.
- Pengairan dan Penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30 menit. -Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.

3.5. Pemupukan


3.6. Hama dan Penyakit
3.6.1. Hama
a. Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver).
Kumbang daun berukuran 1 cm dengan sayap kuning polos. Gejala : merusak dan memakan daging daun sehingga daun bolong; pada serangan berat, daun tinggal tulangnya. Pengendalian : Natural BVR atau PESTONA.

b. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
Ulat ini berwarna hitam dan menyerang tanaman terutama yang masih muda. Gejala: Batang tanaman dipotong disekitar leher akar.

c. Lalat buah (Dacus cucurbitae Coq.)
Lalat dewasa berukuran 1-2 mm. Lalat menyerang mentimun muda untuk bertelur, Gejala: memakan daging buah sehingga buah abnormal dan membusuk. Pengendalian : Natural METILAT.

d. Kutu daun (Aphis gossypii Clover)
Kutu berukuran 1-2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Gejala: menyerang pucuk tanaman sehingga daun keriput, kerititing dan menggulung. Kutu ini juga penyebar virus. Pengendalian : Natural BVR atau PESTONA


3.6.2. Penyakit
a. Busuk daun (Downy mildew)
Penyebab : Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menginfeksi kulit daun pada kelembaban udara tinggi, temperatur 16 - 22°C dan berembun atau berkabut. Gejala : daun berbercak kuning dan berjamur, warna daun akan menjadi coklat dan busuk. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.

b. Penyakit tepung (Powdery mildew )
Penyebab : Erysiphe cichoracearum. Berkembang jika tanah kering di musim kemarau dengan kelemaban tinggi. Gejala : permukaan daun dan batang muda ditutupi tepung putih, kemudian berubah menjadi kuning dan mengering. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.

c. Antraknose
Penyebab : cendawan Colletotrichum lagenarium Pass. Gejala: bercak-bercak coklat pada daun. Bentuk bercak agak bulat atau bersudut-sudut dan menyebabkan daun mati; gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udara lembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.

d. Bercak daun bersudut
Penyebab : cendawan Pseudomonas lachrymans. Menyebar pada saat musim hujan. Gejala : daun berbercak kecil kuning dan bersudut; pada serangan berat seluruh daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering dan berlubang. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.

e. Virus
Penyebab : Cucumber Mosaic Virus, CMV, Potato virus mosaic, PVM; Tobacco Etch Virus, TEV; otato Bushy Stunt Virus (TBSV); Serangga vektor adalah kutu daun Myzus persicae Sulz dan Aphis gossypii Glov. Gejala : daun menjadi belang hijau tua dan hijau muda, daun berkerut, tepi daun menggulung, tanaman kerdil. Pengendalian: dengan mengendalikan serangga vektor dengan Natural BVR atau PESTONA, mengurangi kerusakan mekanis, mencabut tanaman sakit dan rotasi dengan famili bukan Cucurbitaceae.

f. Kudis (Scab)
Penyebab : cendawan Cladosporium cucumerinum Ell.et Arth. Terjadi pada buah mentimun muda. Gejala : ada bercak basah yang mengeluarkan cairam yang jika mengering akan seperti karet; bila menyerang buah tua, terbentuk kudis yang bergabus. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.

g. Busuk buah
Penyebab : cendawan (1) Phytium aphinadermatum (Edson) Fizt.; (2) Phytopthora sp., Fusarium sp.; (3) Rhizophus sp., (4) Erwinia carotovora pv. Carotovora. Infeksi terjadi di kebun atau di tempat penyimpanan. Gejala : (1) Phytium aphinadermatum: buah busuk basah dan jika ditekan, buah pecah; (2) Phytopthora: bercak agak basah yang akan menjadi lunak dan berwarna coklat dan berkerut; (3) Rhizophus: bercak agak besah, kulit buah lunak ditumbuhi jamur, buah mudah pecah; (4) Erwinia carotovora: buah membusuk, hancur dan berbau busuk. Pengendalian: dengan menghindari luka mekanis, penanganan pasca panen yang hati-hati, penyimpanan dalam wadah bersih dengan suhu antara 5 - 7 derajat C. Dan pemberian Natural GLIO sebelum tanam.


3.7. Panen
3.7.1. Ciri dan Umur Panen
Buah mentimun muda lokal untuk sayuran, asinan atau acar umumnya dipetik 2-3 bulan setelah tanam, mentimun hibrida dipanen 42 hari setelah tanam Mentimun Suri dipanen setelah matang.

3.7.2. Cara Panen
Buah dipanen di pagi hari sebelum jam 9.00 dengan cara memotong tangkai buah dengan pisau tajam.

3.7.3.Periode Panen
Mentimun sayur dipanen 5 - 10 hari sekali tergantung dari varitas dan ukuran/umur buah yang dikehendaki.

Sumber: teknis-budidaya.blogspot.com